Aku, dia, Dia

1/3 malam terakhir,

Engkau menyelipkannya

di pikiran

Menggiringku dalam diskusi

karena percakapan 3/4 malam

yang lalu

antara aku dan dia

 

Ini ulahMu

aku tak begitu sadar

menarikan lisanku

dan

meracun pertahanannya

menjamukanku dalam petamanan

hatinya

 

Cukup di alinea ini

aku bercerita,

Aku masih  menikmati

udara petamanan hati

dia

Bahagia menggenapi 1 malam

aku, dia

dalam

Dia

 

Aku, dia, Dia

SATU

 

(tak ada teh dalam cerita sekali ini,

telah kuregukkan baginya)

Tadi aku berdiskusi lagi denganNya

Aku hampir menyerah

 

Tapi aneh,

setiap aku akan memulai

untuk berhenti

Aku masih melanjutkan

diskusiku denganNya

cukup lama

untuk seorang serampangan

seperti

aku

 

Dan

aku masih membicarakannya

kepadaNya

dibelakang punggungnya

 

Kadang kala aku ingin

menyeruput susu coklat dingin

di antara kalian para minuman

pada etalase itu

Tapi Dia tetap menyuguhkanku

segelas teh hangat

 

Aku mereguk

sedikit demi

sedikit

Mencoba merasakan

ini lidah

tenggorokan

Biar merasakan

 

Ahh kulanjutkan saja

Kami telah saling menggenggam

Pesan

Kadang aku merasa

bahwa hati kecilku memberikan

suatu tanda-tanda

penenang dari pertanyaan-pertanyaan

jasadku

 

Lalu

Aku pergi sejenak ke warkop pinggiran

dekat jembatan

memesan teh hangat

untuk dibawa minum dalam

kamar kos

berpikir

meyakinkan suara-suara

kecil dari hati

tentang dirimu

 

Salah satu persamaan

antara dirimu dengan hatiku adalah

sama-sama menyampaikan pesan

secara tersirat

 

Ahh…

Sial…

Aku menyeruput teh hangatku

dan menghentikan jemariku sejenak

merangkai kata dalam blog ini

hanya karena sejenak memikirkanmu

 

Sebentar…

Aku tunggu esok saja

Sepertinya kamu mulai berani

menyatakan apa yang kamu rasakan

pada malam ini

seperti apa yang kurasakan

dalam hati

melalui pesannya

Satu Hari Selamanya

Hujan…

Malam

dari satu hari yang penuh tanya

bahagia

bahkan dari hari sebelumnya

yang diteruskan

kepada hari ini yang penuh tanya

ceria

 

Mereka melihatku ada,

salah seorang di antaranya

melihatku nyata

Dan

sepertinya aku pernah

melihatnya di satu kota asal,

lalu

kota di mana kami bertemu

di sini sekarang

 

Aku pikir Tuhan takkan melakukan

perbuatan iseng

dengan mempertemukan kami

berkali-kali di sini

dalam satu waktu ini

dan mungkin

dalam satu waktu yang lalu

untuk satu waktu kekal

di kehidupan kini dan esok

 

Tuhan, ketika aku menganggapnya

sebagai gula untukku

namun Engkau mengetahui bahwa

adanya susu manis untukku

maka genggam tanganku

menarikan jemari mengangkat

cangkir teh susu hangat

untuk kukecup

ataukah

Engkau mengijinkan aku tetap

mengecap legit teh manis

sajianMu

 

Sapaan Kepada Orang-orang Konyol

Aku bilang aku tak tahu

apa yang harus dilakukan

Yang aku tahu

aku merasakan udara kesuksesan

 

Bukankah Dia meniupkan

angin kesuksesan padaku

pada hari itu

 

Aku banyak melihat

orang-orang konyol

membanting tulangnya

Sementara mereka lupa menghadap Tuhannya

sebelum mereka mematahkan belulangnya

 

Aku banyak melihat

orang-orang konyol

yang menuduhku

orang santai serampangan

Sementara kalian si konyol

bekerja keras menggebu

penuh nafsu dan ambisi

 

Lupakah hei konyol?

Kerja banting belulangmu

tidak lebih seperti

kurang meyakini pertolonganNya

 

Santailah wahai orang-orang konyol

Kalian memiliki ruh dan rasa

Santailah wahai orang-orang konyol

Manusia atasanmu hanyalah tanah

seperti asalmu

yang tidak memberikan keputusan

yang lebih baik dari keputusanNya

 

Maafkan aku orang-orang konyol

aku tidak mengajakmu

mengecup aroma teh bersama

sebelum pola pikir konyolmu

terhenti

Teh Panas, Rintik dan Terik

Rintik hujanMu tak saling bergandengan

seperti biasanya,

memberi celah pada terik matahari

untuk memberi kegerahan tubuh

 

Kesalahanku,

di rintik nan terik ini aku menyempatkan

memesan teh panas,

kuulangi  -teh panas!-

 

Sedikit aku ingin bercerita padaMu

di sore rintik nan terik ini

Seperti kata penyair Gibran,

“Bangun di fajar pagi seringan hati di awan,

istirahat di terik siang

merenungi puncak getaran cinta,

pulang di kala senja

dengan penuh rasa syukur

dalam rongga dada…”

Sebelumnya aku ingin menyampaikan

bahwa sebelum senja semakin pekat

aku telah bersyukur

Penunggang Awan

Seperti yang Kau katakan,

hujan mengantarnya padaku

sebelum aku pulang dari rumahMu

 

Seperti yang kurasakan

ketika aku menerobos

rintikan-rintikan penunggang awan

yang tak sanggup kuhitung

 

Dia sudah di depan pintu

menungguku pulang dari rumahMu

dan ketika aku kembali

Aku dan dia

mengecup bibir cangkir teh hangat

racikanMu