Bangunkan Aku

Jadi apa yang ada

saat senja itu

akan kupertanyakan padaMu

pada malam

bagian akhir nanti

 

Maka bangunkan aku di 1/3 malam akhir itu

agar aku leluasa bertanya

dan diskusi denganMu

tentangnya

 

Dan bukankah saat itu

dia adalah bagian dari utusanmu

untuk penglihatan cerahku

sehingga aku menatap

diriku lebih dalam

tentangku

 

Bahkan setelah itu

aku sempat meragu

tentang diriku

apakah aku pantas

meminta dirinya

untukku

padaMu

 

Maka aku bertanya padaMu

berdiskusi denganMu

tolong bangunkan aku

pada jam itu

1/3 malam bagian akhir

 

Kurasa cukup

teh susu sore tadi

mengantarku beranjak ke ranjang

memejam mata

dan menjemputmu

1/3 malam akhir nanti

 

tolong bangunkan aku

(amin)

Advertisements

Lelaki Perangkai Kejanggalan & Wanita Perangkai Tanya

Aku meletakkan

kejanggalan-kejanggalan

sehasta di atasmu

untuk kamu raih

dan uraikan

mengenai apa yang

aku sampaikan padamu

 

Dan aku tahu

kamu memiliki

kebingungan mencerna

janggal yang kusampaikan

Hingga kamu

melontarkan tanya berbalik

kepadaku,

aku kurang memahami

 

Ini bukan tentang

tanya berbalas

karena sebenarnya

kita memiliki bahasa

tersendiri

 

Sepertinya kita lebih

nyaman dengan pelontaran

suatu janggal dan tanya

yang dilesatkan secara langsung

dari panah hati

untuk diucapkan secara lisan

hingga kita saling mengerti

tanpa adanya sandi

yang menutupi

 

Seperti kalanya kamu

meletakkan tanya padaku,

Dan aku

meletakkan janggal padamu,

kita saling mengerti

untuk menjawab teka-teki

yang kita ciptakan

 

Kamu memahami

bahkan teka-teki yang ada

pada takaran gula

secangkir teh hangat

yang aku gemari,

dan aku memahamimu

bahkan rangkaian tanya yang ada

pada rusuk huruf

kalimat yang mengiringi

tulis jemari yang kamu cintai,

 

Ini tulisan janggal untukmu

wanita perangkai tanya,

Dan jangan kau balas

Sebenarnya Terang

Dan imajinasi aku utak-atik

seperti biasa

mencari gambaran

tentangmu

 

Seperti saat itu

bukan kusengaja

aku membenamkanmu

ke dalam pikiranku

dengan harapan

terang,

meski saat itu

gelap yang ada

 

Seperti saat itu

pula

bukan kusengaja

aku merangkai

huruf penyusun namamu

dalam lembaran kerjaku

dengan harapan benderang,

meski kala itu

gulita yang ada

 

Lalu hingga

yang ada kini

di sela nyamanku

sore hari

sembari mereguk

teh hangat

ada terbitmu

dengan tarikan senyum

yang merekah

cerminan langit sore

bukan redup, melainkan cerah

benar-sebenarnya cerah